Tampilkan postingan dengan label 6. KOTAMA TNI-AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 6. KOTAMA TNI-AL. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

PROFILE KORPS MARINIR

Logo Korps Marinir

Korps Marinir Indonesia

Korps Marinir TNI Angkatan Laut atau (Kormar) adalah salah satu komando utama (Kotama) TNI Angkatan Laut. Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir adalah sebuah Komando Utama sejajar dengan Kotama lain seperti (Koarmatim, Koarmabar, Kolinlamil, Kobangdikal, Seskoal dan AAL). Kormar memiliki slogan "Jalesu Bhumyamca Jayamahe" yang artinya "Di Laut dan Darat Kita Jaya". Markas Korps Marinir terletak di Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, Kwitang, Jakarta Pusat.[1][2][3][4] Yang sebelumnya bernama Jalan Prapatan. Saat ini Korps Marinir terdiri dari dua Divisi:

Sejarah

Cikal bakal Korps Marinir bermula dari tanggal 15 November 1945, di mana nama Corps Mariniers tercantum dalam Pangkalan IV ALRI Tegal sehingga tanggal ini dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir. Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/1948 pada tanggal 9 Oktober 1948 ditetapkan adanya Korps Komando di dalam jajaran Angkatan Laut. Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) kembali menggunakan nama Korps Marinir sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 15 November 1975.[5]

Korps Marinir Pernah Terpisah dari TNI AL

berawal dari dibentuknya Corps Mariniers (CM), cikal bakal Marinir pada 15 November 1945 di Pangkalan IV ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Tegal. Corps Mariniers ini dibentuk awalnya sebagai “pendidikan” para pelaut Indonesia yang tergabung di ALRI, agar bisa bertempur di darat dalam keadaan darurat. Kebanyakan, instruktur Corps Mariniers ini berasal dari lulusan sekolah pelayaran. Tapi setidaknya ada satu di antara mereka yang pernah mengenyam pendidikan tempur di darat. Salah satu instruktur yang punya pengalaman pendidikan pertempuran di darat itu adalah Tatang Rusmaja. Seorang jebolan PETA (Pembela Tanah Air). Yang dilatih bukan hanya para personel ALRI dan pemuda asal Tegal, tapi juga dari luar kota. Sebagaimana pasukan ALRI lainnya di berbagai daerah, Corps Mariniers juga pada akhirnya terpaksa ikut bergerilya di darat karena minus alutsista laut. Di tempat-tempat lain, pasukan ALRI ini banyak dikenal sebagai “ALRI Gunung” karena memang lebih sering bertempur di pedalaman hutan dan kaki gunung, ketimbang di laut. Tapi mereka belum termasuk Corps Mariniers karena korps anyar ini baru eksis di Pangkalan IV ALRI di Tegal, belum ada di pangkalan lainnya. Khusus para personel Corps Mariniers asal Pangkalan IV Tegal, sekiranya 25 kali mereka mengirim pasukan ke front Semarang di masa revolusi, untuk ikut Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Angkatan Darat mempersempit gerak pasukan Belanda. Di tengah-tengah masa revolusi, tepatnya pada 17 Maret 1948 sempat terjadi yang namanya “Re-Ra” alias Reorganisasi dan Rasionalisasi. Saat itu karena Corps Mariniers dari Pangkalan Tegal ini sudah banyak pengalaman tempur di darat, maka pemerintah memutuskan untuk memisahkannya dari TNI AL.
Corps Mariniers kemudian dileburkan ke dalam TNI AD Divisi Diponegoro dengan nama Resimen Samudera yang terbagi menjadi lima batalion. Sedangkan tentara laut yang ingin tetap berada di TNI AL, harus mengajukan surat permohonan kepada Menteri Pertahanan dan Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Baru pada 9 Oktober 1948, keluar Surat Keputusan No. A/565/1948 dari Menteri Pertahanan, di mana surat itu menetapkan pembentukan Korps Komando di lingkungan TNI AL. Kendati begitu, penerimaan personelnya baru dilakukan pasca-Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949. Seleksi penerimaannya dihelat di Pangkalan Utama Surabaya pasca-diserahkan pada Indonesia sebagai dampak KMB. Sekira 1.200 personel yang terpilih akan jadi Pasukan Amfibi TNI AL.
Tapi setelah ditelisik lebih jauh, ternyata 95 persen dari 1.200 orang yang diterima itu merupakan personel yang dahulunya Corps Mariniers Tegal juga. Dari semua personel Korps Komando Operasi Angkatan Laut (KKO AL) yang tercatat pada 1950, 90 persennya juga mantan Corps Mariniers Pangkalan IV Tegal. Maka dari itu, eksistensi Corps Mariniers yang dibentuk 15 November 1945 seperti yang disebutkan di paragraf-paragraf sebelumnya, bisa dibenarkan merupakan cikal bakal Korps Marinir TNI AL saat ini. Setelah pembentukan KKO TNI AL, para pembesarnya sempat meniatkan satuan khusus ini mengacu pada Korps Marinir Inggris dan Belanda. Kedua negara ini masih menyatukan Korps Marinir dengan TNI AL. Tidak seperti Amerika Serikat yang Korps Marinirnya terpisah dari AL. Namun pada akhirnya, pendidikan angkatan pertama KKO ini diarahkan ke Amerika Serikat, selain juga ke Belanda. Sementara nama Korps Marinir baru kembali dipakai pascakeluar Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut No. Skep/1831/XI/1975 pada 15 November 1975.[6]

Kronologis Warna Ungu

Tahun 1958, Warna ungu dipakai oleh Korps Marinir (ketika masih bernama KKO-AL) berupa pita sebagai kode pengamanan untuk mengadakan operasi pendaratan di Padang, Sumatera Barat dalam rangka Operasi 17 Agustus 1961, Baret warna ungu untuk pertama kalinya dipergunakan oleh Batalyon-1 KKO-AL dalam Operasi Alugoro di Aceh. Selanjutnya baret tersebut dilengkapi dengan emblem. Pada awalnya emblem Korps Marinir berbentuk segi lima warna merah dengan lambang topi baja Romawi dan dua pedang bersilang ditengahnya. Pemasangan emblem di baret terletak di samping kiri depan. Tahun 1962, Bertepatan dengan HUT yang ke-17 KKO-AL, diadakan perubahan lambang emblem baret Keris Samudera dikelilingi oleh pita dengan tulisan “Jalesu Bhumyamca Jayamahe” dan terdapat tulisan “Korps Komando” di bawahnya. Diantara tulisan Korps dengan Komando terdapat angka 1945 yang menandakan Korps Marinir lahir. Seluruh lambang dan tulisan emblem tersebut terbuat dari kuningan yang beralaskan warna merah segi lima. 1968, Diadakan lagi sedikit perubahan yaitu dengan member garis pinggir “Kuning” dari segi lima merahnya. 1975, Berdasarkan Skep Kasal No. Skep/1831/XI/1975 tanggal 14 Nopember 1975 nama Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL) kembali berubah nama menjadi Korps Marinir sesuai dengan nama lahirnya Korps Marinir sejak tahun 1945. Tahun 1976, Kepala Staf Angkatan Laut mengeluarkan Surat Keputusan No. Skep/2084/X/1976 tanggal 20 Oktober 1976, tentang Perubahan Emblem Korps Marinir. Perubahan tersebut adalah dengan menambah Jangkar sebagai latar belakangnya, pita bertuliskan “Korps Komando” berubah menjadi “Korps Marinir” dan angka “1945” tetap sebagai tanda lahirnya. Emblem tersebut dipasang pada baret dengan ketentuan bahwa tengah-tengah dasar emblem terletak tepat di atas ujung luar kening mata kiri. Sehingga Emblem tersebut secara resmi mulai dipakai tepat pada peringatan HUT ke-31 Korps Marinir tanggal 15 Nopember 1975.
  • Emblem KKO-AL Digunakan tahun 1960-1962 Berdasarkan Skep Komandan KKO AL Tanggal 04 Januari 1961 Nomor Skep : 02/KP/KKO/1961.
  • Emblem KKO-AL Digunakan tahun 1962-1976 Berdasarkan Skep Panglima Komando Tanggal 10 September 1962 Nomor Skep : 5030.6.
  • Emblem KORPS MARINIR Digunakan tahun 1976 - Sekarang Berdasarkan Skep KASAL Tanggal 20 Oktober 1976 Nomor Skep : Skep/2084/X/1976

Pembagian Satuan Korps Marinir

Saat ini kekuatan Korps Marinir TNI AL terbagi menjadi 2 Pasukan Marinir (Pasmar 1) di Sidoarjo dan (Pasmar 2) di Jakarta Pusat yang masing-masing dipimpin oleh seorang Komandan Perwira Tinggi Marinir Bintang Satu (Brigjen TNI Marinir). Setiap Pasmar membawahi Brigade Infanteri Marinir, Resimen Bantuan Tempur Marinir (Menbanpurmar), Resimen Artileri Marinir (Menartmar) dan Resimen Kavaleri Marinir (Menkavmar). Brigade Infanteri Marinir yang ada sekarang 3 Brigade melingkupi 10 Batalyon Infanteri Marinir. Satuan elit Korps Marinir TNI AL dinamakan Intai Amfibi (Taifib) dan satuan anti-teror TNI Angkatan Laut dinamakan Detasemen Jala Mengkara (Denjaka).

 




PROFILE KOLINLAMIL

Logo Kolinlamil

 

Komando lintas laut militer

Komando Lintas Laut Militer atau disingkat Kolinlamil adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Komando ini bermarkas besar di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kolinlamil dibentuk sejak tanggal 1 Juli 1961 dengan nama Djawatan Angkutan Laut Militer (DALMIL). Panglima Kolinlamil yang sekarang menjabat adalah Laksamana Muda TNI Agung Prasetiawan, M.AP,.
Kolinlamil adalah Komando Utama (Kotama) Pembinaan dan Operasional. Dalam bidang pembinaan Kolinlamil berkedudukan langsung di bawah KASAL, sedangkan dalam bidang operasional berkedudukan langsung di bawah Panglima TNI.

Sejarah

Djawatan Angkutan Laut Militer

Kolinlamil dibentuk di Jakarta pada tanggal 1 Juli 1961 dengan nama Djawatan Angkutan Laut Militer (DALMIL) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI AL No. 5401.27 tanggal 24 Juli 1961, dan Skep Men/Kasal No. 5401.23 tanggal 11 Agustus 1961. Pembentukan DALMIL ini didasarkan pertimbangan demi kepentingan logistik TNI-AL maupun ABRI umumnya, termasuk bagi kepentingan pemerintah di bidang angkutan laut.

Komando Angkutan Laut Militer

Seiring dengan dicanangkannya TRIKORA pembebasan Irian Barat, Dalmil diubah namanya menjadi Komando Angkutan Laut Militer (KOALMIL), berdasarkan Surat Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI/Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat No. 12/PLM BS tahun 1962 serta berdasarkan Skep Men/Kasal No. 5401.16 tanggal 5 April 1962.

Dinas Angkutan Laut Militer

Pada tanggal 27 Februari 1970 nama KOALMIL diubah lagi menjadi Dinas Angkutan Laut Militer (DISANGLAMIL), berdasarkan Surat Keputusan Direktur Anglamil No. KPTS/ANGLAMIL/2111/1970, dan ketentuan Comanders Call ALRI, tanggal 25 sampai dengan 28 Februari 1970.

Komando Lintas Laut Militer

Pada tanggal 4 Mei 1970, Dinas Angkutan Laut Militer (DISANGLAMIL) diubah lagi menjadi : Komando Lintas Laut Militer (KOLINLAMIL) berdasarkan Instruksi Kasal No. 28/71 TW. 230204 Z/APR/1971 dan Instruksi Komandan Kolinlamil Nomor : 02/INTR/KOLINLAMIL/V/1971, tanggal 4 Mei 1971. Tanggal 23 Juli 1971 nama Komando Lintas Laut Militer (KOLINLAMIL) ditetapkan berdasarkan Skep Menhankam Pangab, tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur ALRI Nomor : Kep/A/39/VII tahun 1971, tanggal 23 Juli 1971, dan nama Kolinlamil ini digunakan sampai sekarang.

 

Tugas dan program

Tugas pokok

Kolinlamil mempunyai tugas pokok membina kemampuan sistem angkutan laut militer, membina potensi angkutan laut nasional untuk kepentingan pertahanan negara, melaksanakan angkutan laut TNI dan Polri yang meliputi personel, peralatan dan perbekalan, baik yang bersifat administratif maupun taktis strategis serta melaksanakan bantuan angkutan laut dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Sesuai dengan fungsi dan tugasnya melaksanakan pergeseran kekuatan militer baik pasukan maupun logistik melalui laut di seluruh perairan Indonesia. Kegiatan lintas laut oleh unsur-unsur Kolinlamil maupun unsur-unsur yang di-Bawah Kendali Operasi (BKO) Kolinlamil dapat dilaksanakan secara individu maupun dalam formasi baik pada saat damai maupun masa perang. Pergeseran pasukan maupun logistik dapat dilakukan dari suatu Pangkalan Angkatan Laut, Pelabuhan Umum, Pantai ke Pangkalan Angkatan Laut atau ke Pelabuhan Umum dan pantai lainnya.

Tugas pembinaan

Dalam bidang pembinaan, Kolinlamil bertugas menyusun dan merencanakan program-program pembinaan kekuatan unsur/KRI, terminal serta sarana dan prasarana pendukung dalam jajaran Kolinlamil melalui pemeliharaan, pengiriman, pengembangan taktis dan prosedur angkutan laut militer sesuai dengan tingkat dan lingkungan kewenangannya.

Program

Dalam bidang operasional Kolinlamil mengkoordinasikan dan menyusun rencana serta program angkutan laut untuk seluruh jajaran TNI dan Polri. Sebagai Kotama pengemban tugas operasional, pada saat ini Kolinlamil mengoperasikan beberapa Kapal/KRI dari berbagai jenis, antara lain : Angkut Tank (AT), Bantu Umum (BU), Bantu Angkut Personel (BAP) dan jenis Landing Platform Dock (LPD)
Disamping unsur KRI termasuk di dalamnya pengelolaan dua buah terminal Kolinlamil, sebagai unsur Komando Pelaksana (Kolak) anglamil ataupun anglanas membawahi 2 Komando Pelaksana Pembinaan (Kolakbin) yaitu Saltinlamil Jakarta dan Satlinlamil Surabaya.

 

Satuan Operasi

  1. Satuan Lintas Laut Militer Jakarta
  2. Satuan Lintas Laut Militer Surabaya

 

Armada

Kolinlamil memiliki 2 komando pelaksanan pembinaan dan memiliki beberapa unsur jenis Landing Ship Tank (LST) yang bermarkasi di (Jakarta dan Surabaya)
1. KRI dibawah pembinaan Satlinlamil Jakarta :
2. KRI dibawah pembinaan Satlinlamil Surabaya :

 

Panglima Kolinlamil

Kolinlamil telah mengalami beberapa kali pergantian nama serta pimpinan pemegang komando, dari sebutan Komandan, Direktur, Panglima, Komandan dan berubah lagi menjadi sebutan Panglima hingga sekarang berdasarkan Surat Panglima TNI No. B/583-08/13/12/SRU tanggal 19 Maret 2003 dan Telegram Kasal No 014/SREN/03.03 TWU.0325 1420.

Daftar Panglima

Sejak pertama kali berdiri hingga saat ini, telah terjadi pergantian pimpinan sebanyak 33 kali. Para Panglima Kolinlamil tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Laksda TNI Moeljono Silam (1 Feb 1961 s.d 16 Mei 1966)
  2. Laksda TNI F Sumantri (16 Mei 1966 s.d 15 April 1972)
  3. Laksda TNI Toto PS (15 April 1972 s.d 28 Okt 1976)
  4. Laksda TNI R Soeparno (28 Okt 1976 s.d 8 Feb 1983)
  5. Laksda TNI Adang Safaat (8 Feb 1983 s.d 14 Juni 1985)
  6. Laksda TNI Basoeki (14 Juni 1985 s.d 3 Mei 1986)
  7. Laksda TNI H.J Wagiman (3 Mei 1986 s.d 14 Mar 1988)
  8. Laksda TNI Pramono Sumantri (14 Mar 1988 s.d 31 Agt 1989)
  9. Laksda TNI Muhammad Su.ud (31 Agt 1989 s.d 4 Mei 1991)
  10. Laksda TNI Oentoeng Sarwono (4 Mei 1991 s.d 4 Jan 1993)
  11. Laksda TNI Mochammad Sochied (4 Jan 1993 s.d 14 Apr 1993)
  12. Laksda TNI Haryono S.IP (14 Apr 1993 s.d 23 Mar 1995)
  13. Laksda TNI H. Warsono HP ( 23 Mar 1995 s.d 20 Mar 1996)
  14. Laksda TNI H.M Amonaris S.IP ( 20 Mar 1996 s.d 7 Okt 1998)
  15. Laksda TNI Djaelani (7 Okt 1998 s.d 22 Mar 2000)
  16. Laksda TNI J.F.A Manengkei ,SE (22 Mar 2000 s.d 14 Agt 2001)
  17. Laksda TNI R Ompusunggu (14 Agt 2001 s.d 6 Agt 2002)
  18. Laksda TNI Mualimin Santoso MZ ( 6 Agt 2002 s.d 5 Mar 2003)
  19. Laksda TNI Djoko Agoes Hanoeng (5 Mar 2004 s.d 19 Agt 2004)
  20. Laksda TNI Muryono (19 Agt 2004 s.d 3 Feb 2006)
  21. Laksda TNI Adi Prabawa, S.IP,M.M (3 Feb 2006 s.d 25 Agt 2006)
  22. Laksda TNI Lili Supramono (26 Agt 2006 s.d 11 Feb 2008)
  23. Laksda TNI Bambang Supeno (11 Feb 2008 s.d 16 Sept 2009 )
  24. Laksda TNI Marsetio,M.M. ( 16 Sept s.d 8 Desember 2009)
  25. Laksda TNI Slamet Yulistiyono (8 Desember 2009 s.d 25 November 2010)
  26. Laksda TNI Didit Herdiawan,MPA.,MBA. (25 November 2010 s.d 12 September 2011 )
  27. Laksda TNI Agung Pramono, S.H. ,M.Hum.(12 September 2011 - 2012 )
  28. Laksda TNI Sri Mohamad Darojatim (2012 - 2014)
  29. Laksda TNI Arie H. Sembiring (2014 - 2014)
  30. Laksda TNI Darwanto, M.AP. (2014 - 2014)
  31. Laksda TNI Aan Kurnia, S.Sos (2014 - 2016)
  32. Laksda TNI I.G. Putu Wijamahadi, S.H., (2016 - 2017)
  33. Laksda TNI Agung Prasetiawan, M.AP, (2017 - Sekarang)




 

PROFILE KOARMATIM

Logo Koarmatim

Komando armada Indonesia kawasan timur

Komando Armada RI Kawasan Timur atau disingkat (Koarmatim) adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut yang lahir pada 30 Maret 1985. Komando ini bermarkas besar di Surabaya, Jawa Timur. dan membawahi wilayah laut indonesia bagian timur.

Pangkalan


Peta Wilayah Kerja Koarmatim
Koarmatim membawahi tujuh Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) dan 2 Gugus (Guskamla dan Gupurla) yang meliputi:
  1. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V (Lantamal V) di Surabaya
  2. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VI (Lantamal VI) di Makasar
  3. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VII (Lantamal VII) di Kupang
  4. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VIII (Lantamal VIII) di Manado
  5. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IX (Lantamal IX) di Ambon
  6. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut X (Lantamal X) di Jayapura
  7. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut XI (Lantamal XI) di Merauke
  8. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut XIII (Lantamal XIII) di Tarakan
  9. Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut XIV (Lantamal XIV) di Sorong

Satuan Operasi

  1. Gugus Tempur Laut Armada Timur (Guspurla Koarmatim) di Surabaya
  2. Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Guskamla Koarmatim) di Biak

Satuan Pelaksana Armatim

Armada

Beberapa kapal yang tergabung ke dalam armada timur adalah:
  1. KRI Ahmad Yani - 351
  2. KRI Slamet Riyadi - 352
  3. KRI Yos Sudarso - 353
  4. KRI Oswald Siahaan - 354
  5. KRI Abdul Halim Perdanakusumah - 355
  6. KRI Karel Sasuit Tubun - 356
  7. KRI Fatahillah - 361
  8. KRI Malahayati - 362
  9. KRI Nala - 363
  10. KRI Ki Hajar Dewantara - 364
  11. KRI Diponegoro - 365
  12. KRI Hasanuddin - 366
  13. KRI Sultan Iskandar Muda - 367
  14. KRI Frans Kaisiepo - 368
  15. KRI Untung Suropati - 372
  16. KRI Sultan Nuku - 373
  17. KRI Lambung mangkurat - 374
  18. KRI Hasan Basri - 382
  19. KRI Cakra - 401
  20. KRI Nanggala - 402 (kapal selam)
  21. KRI Teluk Semangka -512
  22. KRI Teluk Penyu - 513
  23. KRI Teluk Mandar - 514
  24. KRI Teluk Sampit - 515
  25. KRI Teluk Banten - 516
  26. KRI Teluk Ende - 517
  27. KRI Teluk Cenderawasih - 533
  28. KRI Teluk Berau - 534 (Tenggelam sebagai sasaran tembak AJ/XXXI[1][2])
  29. KRI Teluk Jakarta - 541
  30. KRI Teluk Sangkulirang - 542
  31. KRI Multatuli MA-561
  32. KRI Kupang - 582
  33. KRI Nusa Utara - 584
  34. KRI Makassar - 590
  35. KRI Surabaya - 591
  36. KRI Mandau - 621
  37. KRI Rencong - 622
  38. KRI Badik - 623
  39. KRI Keris - 624
  40. KRI Hiu (634)
  41. KRI Singa - 651
  42. KRI Ajak-653
  43. KRI Pulau Rengat - 711
  44. KRI Pulau Rupat - 712
  45. KRI Pulau Raas - 722
  46. KRI Pulau Rimau - 724 (Satuan Kapal Ranjau)
  47. KRI Pandrong - 801
  48. KRI Sura - 802
  49. KRI Layang - 805
  50. KRI Suluhpari - 809
  51. KRI Katon - 810
  52. KRI Kakap - 811
  53. KRI Kerapu - 812
  54. KRI Tongkol - 813
  55. KRI Warakas - 816
  56. KRI Panana - 817
  57. KRI Kalakay - 818
  58. KRI Tedungnaga - 819
  59. KRI Piton - 821
  60. KRI Weling - 822
  61. KRI Tedungselar -824
  62. KRI Boiga - 825
  63. KRI Birang - 831
  64. KRI Mulga - 832
  65. KRI Badau-841
  66. KRI Salawaku-842
  67. KRI Patola -869
  68. KRI Taliwangsa - 870
  69. KRI Sambu - 902
  70. KRI Arun - 903
  71. KRI Sungai Gerong - 906
  72. KRI Sorong - 911
  73. KRI Soputan - 923
  74. KRI Waigeo - 961
  75. KRI Karang Pilang - 981
  76. KRI Karang Tekok - 982
  77. KRI Karang Banteng - 983
  78. KRI dr.Suharso - 990
  79. KRI Sutedi Putra - 878
  80. KRI Tanjung Dalpele - 972
  81. KRI Dewaruci
  82. KRI Arung Samudera

 

Panglima

  1. Kolonel Laut Mohammad Nazir (1950 - 1957)
  2. Kolonel Laut R. Hadiwinarso (1957 - 1959)
  3. Kolonel Laut Omar Basri (1959 - 1960)
  4. Kolonel Laut R. Mulyadi (1960 - 1962)
  5. Kolonel Laut Hamzah Atmohardojo (1962 - 1964)
  6. Laksda Laut Rachmat Sumengkar (1964 - 1966)
  7. Laksda Laut L.M. Abdul Kadir (1966 - 1970)
  8. Laksda Laut Subroto Judono (1966 - 1970)
  9. Laksda Laut M. Subarkah (1970 -1970)
  10. Laksda TNI Syamsul Bahri (1970 - 1973)
  11. Laksda TNI Rudy Poerwana (1973 - 1977)
  12. Laksdya TNI Prasodjo Mahdi (1977 - 1981)
  13. Laksda TNI R. Kasenda (1981 - 1985)
  14. Laksda TNI Gatot Suwardi (1985 - 1986)
  15. Laksda TNI R. Moh Arifin P.S (1986 - 1989)
  16. Laksda TNI Sumitro (1989 - 1991)
  17. Laksda TNI Tanto Kuswanto (1991 - 1993)
  18. Laksda TNI Mochammad Sochied (1993 - 1994)
  19. Laksda TNI Gofar Soewarno (1994 - 1995)
  20. Laksda TNI Bambang Surjanto (1995 - 1997)
  21. Laksda TNI Edi Suyadi (1997 - 1999)
  22. Laksda TNI Adi Haryono (1999 - 2001)
  23. Laksda TNI Syahroni Kasnadi (2001 - 2002)
  24. Laksda TNI I Wayan Rampih Argawa (2002 - 2003)
  25. Laksda TNI Slamet Soebijanto (2003 - 2003)
  26. Laksda TNI Sosialisman (2003 - 2005)
  27. Laksda TNI Yosaphat Didik Heru Purnomo (2005 - 2005)
  28. Laksda TNI Waldi Murad (2005 - 2006)
  29. Laksda TNI Moekhlas Sidik (2006 - 2007)
  30. Laksda TNI Adi Prabawa (2007 - 2008)
  31. Laksda TNI Lili Supramono (2008 - 2009)
  32. Laksda TNI Ignatius Dadiek Surarto (2009 - 2010)
  33. Laksda TNI Among Margono (2010 - 2010)
  34. Laksda TNI Bambang Suwarto (2010 - 2011)
  35. Laksda TNI Ade Supandi (2011 - 2012)
  36. Laksda TNI Agung Pramono (2012 - 2014)
  37. Laksda TNI Sri Mohamad Darojatim (2014 - 2014)
  38. Laksda TNI Arie Henrycus Sembiring (2014 - 2014)
  39. Laksda TNI Darwanto, M.AP. (2014 - Sekarang)