Senin, 25 September 2017

KOHANUDNAS

Logo Kohanudnas

Komando Pertahanan Udara Nasional disingkat Kohanudnas merupakan komando utama terpenting dalam kekuatan Markas Besar TNI. Kohanudnas berfungsi sebagai mata dan telinga yang mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia. Kohanudnas didirikan pada 9 Februari 1962. Sebagai pengawal keamanan wilayah Indonesia, dalam melaksanakan tugasnya Kohanudnas didukung oleh Satuan Radar TNI-AU yang ditempatkan di berbagai daerah. Selain itu Kohanudnas juga telah mengintegrasikan data dari radar-radar sipil di seluruh Indonesia.
Markas Komando Kohanudnas berada di Jl. Mustang 5 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

 

Tugas Kohanudnas

Kohanudnas merupakan salah satu Kotama Tempur TNI Angkatan Udara yaitu Koopsau, Kohanudnas, dan Korpaskhas. Kohanudnas bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri ataupun bekerja sama dengan Komando Utama Operasional lainnya dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur Hanud TNI AU dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur Hanud dalam jajarannya (Wing 100 Hanud Terminal/Menengah-Jauh Paskhas, Wing 200 Satuan Radar, Wing 300 Skadron-Skadron Udara Tempur Sergap, dan Wing 400 Hanud Titik Paskhas) dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.

 

Satuan Kohanudnas

Sekarang ini Kohanudnas memiliki empat Komando Sektor (Kosek) dan Pusdiklat Hanudnas, yaitu:

 

Sejarah

Setelah dibentuk, Kohanudgab memiliki peran yang besar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Kohanudnas sendiri telah terbentuk sejak tanggal 9 Februari 1962, namun untuk merebut Irian Barat maka unsur Kohanudnas tergabung dalam Komando Pertahanan Udara Gabungan Mandala (Kohanudgabla) yang berada di bawah Komando Operasi Mandala (Kola), yang dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962 dengan Panglima AU Mandala Kolonel Udara Leo Wattimena (naik menjadi Komodor Udara). Tugas Kohanudgab dalam operasi Trikora adalah merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indonesia, dan mengembangkan situasi militer di wilayah Irian Barat sesuai militer di wilayah Irian Barat sesuai dengan taraf perjuangan di bidang diplomasi, agar dalam waktu sesingkat-singkatnya di wilayah Irian Barat secara de facto dapat diciptakan daerah bebas atau dapat didudukan unsur-unsur kekuasaan pemerintah daerah Republik Indonesia. Ada 4 unit Radar yang ditempatkan di Wilayah ADC II Kohanudgab yaitu 1 unit radar EW berada di Morotai, 1 unit radar EW berada di Ambon, 1 unit radar GCI/EW di Bula dan 1 unit radar EW berada di Langgur (pindah ke Letfuan) Di antara 4 unit radar, yang paling efektif dalam operasional adalah adalah radar di Bula dipimpinan Mayor Udara Aried Riyadi. Radar ini terletak di sebelah Timur Pulau Seram dan ditengah mandala operasi.
Dalam Kola, unsur rudal belum dilibatkan, namun beberapa senjata banyak berperan untuk melindungi pasukan sendiri, mulai dari PSU (Penangkis Serangan Udara) dari AURI maupun ALRI, sampai dengan ARSU (Artileri Sasaran Udara). Di bawah kendali PSU sebanyak 3 batalyon, dan ARSU sebanyak 4 batalyon. Batalyon-batalyon ARSU tersebut adalah Batalyon Pattimura (tersebar di sekitar Pangkalan Udara di Morotai), Batalyon Amahai, Batalyon Laha dan Batalyon Letfuan. Senjata yang dimiliki berupa tripple gun kaliber 30 mm buatan Oerlikon di Swiss. Kohanudgab mengandalkan kekuatan KRI yang berada di Pulau Plang, Bitung dan Ambon. Mandala operasi laut berada di Laut Arafuru. ALRI mengerahkan beberapa jenis kapal cepat roket (fast rocket ship) sebanyak 12 kapal buatan Rusia, kapal anti kapal selam (sub chaser) buatan Yugoslavia, kemudian 4 kapal motor terpedo boat (MTB) ditambah 3 kapal LST (landing ship tank). Kapal-kapal tersebut beroperasi di daerah Dobo, Pulau Ujir, Pulau Kasir di Kepulauan Aru dan Tanjung Weda - Kepulauan Kei. Selama kegiatan operasi pangkalan kapal berada di Halong, Ambon, kemudian kekuatan Udara TNI AL berada di bagian Utara Pulau Ambon dengan 6 Pesawat Gannet dan 2 Pesawat Albatross. Pada saat itu, tidak semua KRI dilengkapi radar pertahanan udara, beberapa KRI hanya memiliki persenjataan meriam anti serangan udara. Selain itu, kekuatan KRI ini tidak dapat dimanfaatkan sebagai gap filler (pengisi celah kosong) bagi radar pertahanan udara. Sedang pesawat Gannet dan Albatross berfungsi untuk pengamanan KRI dan jalur pelayarannya.
Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) berusaha mempertahankan penjajahan di bumi Irian Barat, dan berpusat di Biak. Pada April 1960, Belanda semakin meningkatkan kekuatannya dengan menghadirkan kapal induk “Karel Doorman” untuk memperkuat Detasemen AU Belanda (Zcommando Luchtverdediging Nederlauds Nieuw/CLUNNG). Komposisi kekuatannya adalah 12 pesawat tempur Neptune P2V-7, 6 pesawat helicopter, 4 pesawat Dakota C-47, 2 unit radar Type 15 MK-IV (Early Warning). Dua Radar tersebut berada di Pulau Numfor Biak dan Pulau Raja Zumpat - Sorong. Radar EW dengan jarak jangkau 200 NM penempatannya telah dipersiapkan sejak tahun 1954. Sedang kekuatan pesawat buru sergap berada di Sorong, dengan wilayah patroli sepanjang garis pantai Selatan Irian Barat dan Sorong Fakfak-Kaimana hingga Merauke. Sedangkan wilayah operasi pertahanan udara berada di pantai Utara Irian Barat dari Sorong – Manukwari – Biak dan Jayapura. Selain 2 unit radar darat di atas, Belanda juga telah memasang sebuah Radar di Pulau Wundi dan diperkuat dengan Radar kapal perang. Hanud Kohanudgabla juga diperkuat dengan pesawat pembom strategis Tu-16 yang mampu menjangkau pusat konsentrasi kekuatan tempur Belanda yang berada di Biak. Pada operasi Trikora ini keunggulan udara berada di pihak Indonesia.

 

Panglima

Daftar panglima Kohanudnas:
No. Nama Dari Sampai
1. Laksamana Muda Udara H.M.Soedjono 1962 1966
2. Laksamana Muda Udara L.W.J.Wattimena 1966 1967
3. Laksamana Muda Udara Roesmin Noerjadin 1967 1969
4. Marsekal Muda TNI Sudjatmiko 1969 1973
5. Marsekal Muda TNI Suwondo 1973 1978
6. Marsekal Muda TNI Iskandar 1978 1984
7. Marsekal Muda TNI Hartono 1984 1987
8. Marsekal Muda TNI Ateng Suarsono 1987 1989
9. Marsekal Muda TNI Isbandi Gondosuwignyo 1989 1991
10. Marsekal Muda TNI Subagyo 1991 1993
11. Marsekal Muda TNI F.X. Soejitno 1993 1995
12. Marsekal Muda TNI Irawan Saleh 1995 1997
13. Marsekal Muda TNI M. Koesbeni 1997 1999
14. Marsekal Muda TNI Sonny Rizani 1999 2000
15. Marsekal Muda TNI Wartoyo 2000 2001
16. Marsekal Muda TNI Zeky Ambadar 2001 2002
17. Marsekal Muda TNI Achmad Hasan Sadjad 2002 2003
18. Marsekal Muda TNI Wresniwiro 2003 2003
19. Marsekal Muda TNI Faustinus Djoko Poerwoko 2003 2006
20. Marsekal Muda TNI Eris Heriyanto, S.Ip, M.A 2006 2007
21. Marsekal Muda TNI Pandji Utama Iskaq, S.Ip 2007 2008
22. Marsekal Muda TNI Drajat Rahardjo, S.Ip 2008 2010
23. Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto, S.T 2010 2011
24. Marsekal Muda TNI Johnny FP. Sitompul 2011 2012
25. Marsekal Muda TNI F. Henry Bambang Soelistyo 2012 2013
26. Marsekal Muda TNI Hadiyan Sumintaatmadja 18 Februari 2013 26 Oktober 2015
26. Marsekal Muda TNI Abdul Muis 26 Oktober 2015 23 Februari 2017
27. Marsekal Muda TNI Yuyu Sutisna, S.E. M.M. 23 Februari 2017 Sekarang

 

Peristiwa Bawean

Pada tanggal 2 Juli 2003 sekitar 11:38 Military Coordination Civil di Bandar Udara (Bandara) Ngurah Rai, Bali, menangkap pergerakan manuver beberapa pesawat asing di wilayah sebelah barat laut Pulau Bawean. Dalam pemantauan melalui radar, penerbangan gelap itu jumlahnya berubah-ubah antara empat pesawat kadang-kadang hingga sembilan pesawat yang melakukan manuver di atas Pulau Bawean tanpa memiliki izin perlintasan di lintasan udara (air way) Indonesia yang ada. (Indonesia memiliki lebih dari 1.000 perlintasan domestik dan 42 perlintasan internasional). Penerbangan gelap itu pun kadang berada di ketinggian 15.000 kaki, tetapi kadang naik sampai 30.500 kaki dengan kecepatan sampai 450 knot. Kemudian menghilang beberapa waktu dan setelah beberapa saat kemudian muncul kembali di daerah tersebut. Akibat manuver penerbangan gelap tersebut, sejumlah penerbangan sipil Indonesia yang melintas di wilayah tersebut mendapat gangguan, antara lain seperti penerbangan pesawat Bouraq dari Banjarmasin menuju Surabaya. Pilot pesawat Bouraq mengira itu pesawat tempur TNI AU sehingga hal tersebut dilaporkan ke Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Juanda, Surabaya.
Selain tidak memiliki izin, penerbangan gelap tersebut juga mencurigakan karena tidak mengadakan kontak radio sama sekali ke ATC yang berada di Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Juanda (Surabaya), atau dengan ATC Bandara Ngurah Rai (Denpasar). Untuk itulah, setelah melalui perkembangan yang terekam, Panglima Kosek Hanudnas II Makassar Marsekal Pertama TNI Pandji Utama Iskaq memerintahkan satu penerbangan yang terdiri dari dua pesawat F-16 Fighting Falcon I dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun, untuk melaksanakan identifikasi visual. Sekitar pukul 18.15, kedua pesawat F-16 TNI AU mendarat kembali di Lanud Iswahyudi setelah menyergap dan memperingati kelima pesawat F-18 Hornet, yang mengaku dari US Navy yang tengah mengawal armada Navy yang mengarah ke timur melalui perairan internasional. Setelah penyergapan tersebut, kelima pesawat F-18 Hornet tersebut langsung pergi menjauh.

 

Rencana Kedepan

Kohanudnas merupakan ujung tombak Kotama Operasional TNI AU yang bertugas melaksanakan Penegakan hukum di Udara dan mengatur seluruh potensi kekuatan udara bangsa indonesia. Terkait kekuatan minimum yang diperlukan Kohanudnas sebagai salah satu Ujung Tombak TNI AU dalam operasi Pertahanan Udara maka Kohanudnas diharapkan segera menghidupkan kembali 3 Wing dan ditambah 2 wing yang sudah terbentuk saat ini yaitu Wing 200 Radar dan Wing 400 Hanud Titik Paskhas sehingga diharapkan menjadi 4 Wing yang berada di bawah Kohanudnas, terdiri dari :
  1. Wing/Resimen 100 Peluncur Rudal menengah/jauh Paskhas (next) :
    1. Yon 101 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas I
    2. Yon 102 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas II
    3. Yon 103 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas III
    4. Yon 104 peluncur rudal Paskhas Kohanudnas wilayah Kosekhanudnas IV
    5. Yon 105 Pemeliharaan
  2. Wing 200 Satuan Radar Kohanudnas, rencana 32 Satrad :
    1. Kosek Hanudnas I Jakarta :
      1. Satrad 211
      2. Satrad 212
      3. Satrad 213
      4. Satrad 214
      5. Satrad 215
      6. Satrad 216
      7. Satrad 217
      8. Satrad 218
    2. Kosek Hanudnas II Makassar :
      1. Satrad 221
      2. Satrad 222
      3. Satrad 223
      4. Satrad 224
      5. Satrad 225
      6. Satrad 226
      7. Satrad 227
      8. Satrad 228
    3. Kosek Hanudnas III Medan :
      1. Satrad 231
      2. Satrad 232
      3. Satrad 233
      4. Satrad 234
      5. Satrad 235
      6. Satrad 236
      7. Satrad 237
      8. Satrad 238
    4. Kosek Hanudnas IV Biak :
      1. Satrad 241
      2. Satrad 242
      3. Satrad 243
      4. Satrad 244
      5. Satrad 245
      6. Satrad 246
      7. Satrad 247
      8. Satrad 248
  3. Wing 300 Buru Sergap Kohanudnas (next):
    1. Skadron Udara 301 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas I
    2. Skadron Udara 302 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas II
    3. Skadron Udara 303 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas III
    4. Skadron Udara 304 Buru Sergap wilayah Kosekhanudnas IV
  4. Wing/Resimen 400 Hanud Titik Paskhas :
    1. Den Hanud 471 Paskhas Lanuma Halim Perdana Kusuma Jakarta
    2. Den Hanud 472 Paskhas Lanuma Hasanudin Makassar
    3. Den Hanud 473 Paskhas Lanuma Supadio Pontianak
    4. Den Hanud 474 Paskhas Lanuma Adisutjipto Yogyakarta
    5. Den Hanud 475 Paskhas Lanuma Rusmin Nuryadin Pekanbaru (next)
    6. Den Hanud 476 Paskhas Lanuma Suwondo Medan (next)
    7. Den Hanud 477 Paskhas Lanuma Iswahyudi Madiun (next)
    8. Den Hanud 478 Paskhas Lanuma Husein Sastranegara Bandung (next)
    9. Den Hanud 479 Paskhas Lanuma Manuhua Biak (next)
  5. Pusdiklat Hanudnas Surabaya
Untuk mendukung dan memaksimalkan pertahanan udara maka perlu adanya integrasi dengan Den Hanud Arhanud PSU Paskhas yang terdapat di tiap Lanuma/Lanud dan 40 Pangkalan Udara (sudah ada).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar